Friday, October 28, 2016

Tangisan Nabi





Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. 

Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku".

Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji. Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.

” Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra. bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.

” Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.

” Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, 

….Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, ...Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, …Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?” “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisâ [4]: 41).

Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.” Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.

Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah SAW. sangat mencintai umat manusia.

Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka.

Beliau melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras. Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi SAW., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati.

Ya Allah selamatkan umatku. Keadaan diri Nabi Muhammad SAW. digambarkan Allah SWT. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita.

Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri?

Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.

Ya Allah, berilah kami karunia untuk mecintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.

Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih berganti malam,

Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya,

Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad , atas segenap keluarga dan sahabat beliau.

-------------------------------------------

Dalam linang air mata membasahi pipi

saat kutulis semua ini

Rasulullah, kami pun merindukanmu...

Ya habiballah, Ya Rasulullah, Ya ALLAH selamatkan kami semua umat Muhammad...

Semoga bermanfaat.

Thursday, October 27, 2016

Sejahrah dan Peristiwa Perjalanan Rasulullah S.A.W




Nabi Muhammad lahir 12 Rabbiul Awal 570

Umur 8 hari : Halimah Sadiyyah diangkat sebagai ibu pengasuh

Umur 6 tahun : Kembali ke Mekah dibawah asuhan ibunya

Umur 6 tahun : Ibunya, Siti Aminah wafat

Umur 8 tahun : Kakeknya Abdul-Muttalib wafat

Umur 12 tahun : Mengunjungi Syiria

Umur 25 tahun : Mengunjungi Syiria sebagai rekan kerja Siti Khadijah

Umur 25 tahun : Menikah dengan Siti Khadijah

Umur 28 tahun : Memperoleh momongan Qasim

Umur 30 tahun : Putrinya, Zainab lahir

Umur 33 tahun : Putrinya, Rugaya lahir

Umur 35 tahun : Putrinya, Ummu Kaltum lahir

Umur 35 tahun : Renovasi Ka’bah, penempatan Batu Hitam (Hajar Aswad)

Umur 35 tahun : Putrinya, Fatimah lahir

Umur 40 tahun : Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama di Gua Hira

Umur 40 tahun 6 bln : Siti Khadijah, Abu Bakar, Ali, Zaid masuk Islam

Umur 43 tahun : Mengajak masyarakat Mekah memeluk Islam

Umur 46 tahun : Rombongan kaum Muslim hijrah ke Abyssinia

Umur 46 tahun : Blokade oleh suku Abi-Talib

Umur 46 tahun : Hamzah, Umar menerima Islam

Umur 49 tahun : Kakeknya Abu Talib dan istrinya Khadijah wafat

Umur 49 tahun : Menikah dengan Sauda

Umur 49 tahun : Menikah dengan Aisyah

Umur 49 tahun : Dakwah ke Taif, 13 km dari Mekah

Umur 50 tahun : Isra’ Mi’raj dan menerima perintah sholat 5 kali sehari

Umur 50 tahun : Beberapa orang Madinah memeluk Islam

Umur 52 tahun : Perjanjian Aqabah pertama

Umur 52 tahun : Perjanjian Aqabah kedua

Umur 52 tahun : Hijrah dari Mekah ke gua Thur

Umur 52 tahun : Migrasi dari Mekah ke Madinah

Umur 53 tahun (1 H) : Tiba di Madinah setelah Jumatan di Masjid Quba

Umur 53 tahun : Pembuatan Masjid di Madinah dan adzan pertama oleh Bilal

Umur 53 tahun : Nabi mempersaudarakan kaum Anshor dan Muhajirin

Umur 53 tahun : Perjanjian damai dengan kaum Yahudi di Madinah

Umur 53 tahun : Allah mengijinkan perang mempertahanakan diri

Umur 53 tahun : Perang (ghazwa) Waddan

Umur 54 tahun : Perang Safwan

Umur 54 tahun : Perang Duláshir

Umur 54 tahun : Salman Al-Farisi masuk Islam

Umur 54 tahun : Pengubahan arah Qiblat ke Ka’bah dan Puasa Ramadhan

Umur 54 tahun : Perang Badar

Umur 54 tahun : Perang dengan bani Salim

Umur 54 tahun : Idul Fitri dan pembayaran Zakat Fitrah pertama

Umur 54 tahun : Perintah Kewajiban membayar Zakat

Umur 54 tahun : Pernikahan Fatimah

Umur 54 tahun : Perang dengan Bani Qainuqa

Umur 54 tahun : Perang Sawiq

Umur 54 tahun : Perang Ghatfan

Umur 55 tahun : Perang Bahran

Umur 55 tahun : Menikah dengan Hafsyah

Umur 55 tahun : Perang Uhud

Umur 55 tahun : Perang Humra Al-Asad

Umur 55 tahun : Menikah dengan Zainab binti Khazimah

Umur 56 tahun : Perang dengan Bani Nudair

Umur 56 tahun : Larangan minum khamar

Umur 56 tahun : Perang Datur Riqa

Umur 56 tahun : Menikah dengan Umu Salma

Umur 56 tahun : Perang Badru Ukhra

Umur 57 tahun : Perang Dumatul Jandal

Umur 57 tahun : Perang Dengan bani Mustalaq

Umur 57 tahun : Menikah dengan Jawariah binti Harits

Umur 57 tahun : Menikah dengan Zainab binti Hajash

Umur 57 tahun : Turun perintah berjilbab

Umur 57 tahun : Perang Ahzap atau Khandaq

Umur 57 tahun : Perang dengan Bani Quraiza

Umur 57 tahun : Perang dengan bani Lahyan

Umur 58 tahun : Perang Dhi Qard atau Ghaiba

Umur 58 tahun : Perjanjian Hudaibiyah

Umur 58 tahun : Larangan menikah dengan orang kafir

Umur 58 tahun : Menikah dengan Habibah

Umur 58 tahun : Mengajak para penguasa untuk memeluk Islam

Umur 58 tahun : Perang Khaibar

Umur 58 tahun : Kembali dari Abyssinia

Umur 58 tahun : Menikah dengan Safiyya

Umur 58 tahun : Perang Wadil Qura dan Taim

Umur 59 tahun : Umrah

Umur 59 tahun : Menikah dengan Maimunah

Umur 60 tahun : Khalid bin Walid dan Umar bin Al-Aas masuk Islam

Umur 60 tahun : Perang Muta

Umur 60 tahun : Penaklukan Mekah

Umur 60 tahun : Perang Hunain dan perang Taif

Umur 60 tahun : Tiba di Ja’rana dan utusan Hawazan memeluk Islam

Umur 60 tahun : Pembentukan lembaga zakat dan shodaqoh

Umur 60 tahun : Utusan Ghadara memeluk Islam

Umur 61 tahun : Utusan Balli memeluk Islam

Umur 61 tahun : Perang Tabuk, perang terakhir yang dipimpin oleh Rasulullah

Umur 61 tahun : Aturan membayar pajak keamanan bagi non-Muslim

Umur 61 tahun : Abu Bakar As-Sidiq menunaikan ibadah haji

Umur 61 tahun : Turun perintah Haji, dan pelarangan Riba

Umur 62 tahun

Ramadhan : Utusan Taif, Hamadan, Bani Asad and Bani Abbas, Ghuttan menerima Islam

Dzul-Qaidah : Bertolak dari Madinah ke Mekah

Dzul-Hajj : Haji perpisahan, Hajjatul Wada, Khutbah, wahyu terakhir

Muharam : Utusan Nakha masuk Islam

Safar : Ekspedisi militer dipimpin Surya Usama bin Zaid sukses

Safar : Nabi jatuh sakit

8 Rabiul Awwal: Nabi memimpin sholat selama empat hari

Umur 63 tahun:

12 Rabiul Awwal: Nabi menunjuk Abu Bakar memimpin sholat

12 Rabiul Awwal: Nabi wafat

14 Rabiul Awwal: Nabi dimakamkan



nabi junjungan kita, Nabi Muhammad s.a.w. telah diduga sejak dari kecil dengan menjadi anak yatim piatu, mengembala kambing walaupun usia baginda masih sangat muda, berniaga dan berdagang ke negeri orang, diberikan amanah dan menjaga amanah. Diduga dengan pelbagai ujian yang sangat hebat tatkala diangkat menjadi Nabi, bertahun-tahun baginda berjuang berjihad menegakkan Islam agama Allah di muka bumi ini. Tetap dengan kehidupan zuhud dan sederhana walaupun baginda mempunyai pilihan untuk hidup mewah. Tiada orang yang lebih hebat dan matang seperti baginda. Bagindalah sehebat-hebat manusia pernah ada di muka bumi ini. Selawat dan salam ke atas nabi junjungan kita, Nabi Muhammad s.a.w.   



Semoga bermanfaat...

Wednesday, October 26, 2016

Batang Tamar Yang Menangis




Masjid Nabawi adalah masjid yang dibina hasil gotong-royong orang Ansar dan Muhajirin sejurus sahaja Rasulullah SAW berhijrah daripada Mekah ke Madinah.

Tapak masjid tersebut adalah tempat perhentian pertama unta putih Rasulullah. Ketika orang Muhajirin sampai ke Madinah, mereka disambut dengan meriah oleh orang Ansar.

Semua penduduk Madinah berebut-rebut mendapatkan Rasulullah supaya baginda berhenti dan singgah di rumah mereka.

Lalu baginda menyerahkan kepada unta putih baginda untuk membuat keputusan.

Kemudian unta putih itu berjalan lalu berhenti di satu kawasan lapang berdekatan dengan tanah perkuburan. Maka baginda telah mencadangkan untuk membina sebuah masjid di situ yang dikenali sebagai Masjid Nabawi.

Dalam masjid itu, baginda telah membina mimbar yang diperbuat daripada batang tamar. Di mimbar itulah Rasulullah menyampaikan khutbah kepada kaum baginda.

Tidak kira pada waktu sembahyang ataupun pada waktu-waktu yang lain. Masjid itu juga sentiasa menjadi tumpuan orang. Sekiranya ada perbincangan atau majlis ilmu, Masjid Nabawi menjadi pusat perjumpaannya.

Setelah beberapa lama masjid itu dibina dan digunakan, mimbarnya mula menjadi reput. Rasulullah dan para sahabat memutuskan untuk membuat mimbar baru. Lalu Rasulullah dan orang-orang Islam bertungkus-lumus mengumpulkan batang tamar. Tiang mimbar yang lama telah diruntuhkan dan disimpan di tempat lain untuk digantikan dengan yang baru.

Pada suatu hari, sedang Rasulullah berkhutbah, baginda dan para sahabat terdengar satu suara tangisan. Mereka tercari-cari suara tersebut. Setelah diteliti, rupa-rupanya suara itu datang daripada batang tamar yang dijadikan mimbar yang lama. Rasulullah pergi mendapatkannya. Dengan penuh kasih-sayang baginda menepuk-nepuk batang tamar tersebut kemudian bertanya kenapa ia menangis. Batang tamar itu menjawab:

“Aku sungguh sedih mengenangkan nasibku kerana khidmatku tidak diperlukan lagi olehmu ya Rasulullah. Sedangkan aku ingin bersama denganmu sehingga akhir hayatmu.”

Rasulullah tersenyum lalu berkata: “Sabarlah wahai batang tamar, walaupun khidmatmu tidak diperlukan lagi kerana keuzuranmu, namun engkau tetap akan bersamaku di syurga kelak.”

Selepas mendengar kata-kata Rasulullah itu, batang tamar tersebut berhenti daripada menangis.


Semoga bermanfaat....